Mereka ingin mematahkan keraguan dalam hatinya, tidak mampu. Benarkah mereka tidak mampu. Mereka pun berjalan kaki sejauh 12 KM dari gedung sekolahnya ke Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Ranca Bungur Kabupaten Bogor, hanya berbekal air dan sedikit makanan.

Insantama Leuwiliang – Diperlukan waktu sekitar 2,5 jam untuk berjalan kaki dari gedung SMPIT Insantama Leuwiliang ke LAPAN Rancabungur. Bukan hanya lelah. Perjalanannya juga cukup menegangkan, karena harus melewati jembatan gantung terpanjang di daerah ini. “Dengan teknik khusus, alhamdulillah mereka bisa melewati jembatan ini dengan baik,” kata Kepsek SMPIT Insantama Leuwiliang Yoga Swara S.P yang ikut jalan kaki mendampingi anak anak, Rabu, 18/8/2023.
57 siswa-siswi Kelas 7 SMPIT Insantama Leuwiliang ini, menuju obyek penelitian dan pengembangan teknologi satelit di Indonesia LAPAN yang sekarang berganti nama menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kegiatan ini terangkai dalam kegiatan Leadership and Management Training 2 (LMT 2).
Baca Juga:
- Reportasi LeadChamp saat Audiensi dengan FOSIS
- Selamat, Ananda Telah Berjuang Pra Imtas Qiraati
- Siswa Siswi SMP Bedah Desa di Cigudeg Bogor
“Kegiatan LMT 2 ini bertujuan untuk menghilangkan batasan diri berupa rasa takut, khawatir, inferior, tidak yakin dan lainnya yang dianalogikan sebagai “rantai gajah” yang harus diputus,” tambah Yoga Swara
Medan yang dilalui, ditempuh dengan serius oleh siswa. Tak jarang lontaran pertanyaan kerap kali terdengar menanyakan seberapa jauh lagi lokasi yang akan dituju. Beberapa siswa terlihat cukup letih dengan perjalanan tersebut, namun motivasi guru menjadikan mereka tidak surut untuk meneruskan perjalanan.
“Pak, apakah tujuannya masih jauh ?” tanya Keysar.
“InsyaAllah sudah setengah perjalanan, tetap semangat ya” respon guru pendamping.
“Keysar apakah antum yakin dapat menyelesaikan perjalanan ini dengan baik ?” tanya guru.
“Ana yakin bisa pak” Keysar menjawab.
“Kenapa antum begitu yakin ?” respon guru kembali.
“Karena jika kita berhusnuzhan atau mindset kita positif, insyaAllah Allah akan memudahkan, dan akan sejalan dengan hasilnya nanti” ujar Keysar mantap.
Hingga akhirnya para siswa sampai di lokasi yang dituju, dan mereka tampak antusias menerima ilmu dan bertanya seputar teknologi satelit dan pemanfaatannya.
Humas BRIN, Pak Tri Widodo, menyebutkan BRIN merupakan gabungan 5 entitas lembaga yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) serta Lembaga Riset dan Teknologi. “Dengan meleburnya lembaga-lembaga tersebut, harapannya dapat bekerja lebih efektif dan efisien serta memberikan pelayanan yang optimal bagi masyarakat”, ujarnya.
Sementara itu peneliti BRIN, Ibu Suraduita menjelaskan ke para siswa bahwa satelit adalah benda di luar angkasa yang mengorbit atau mengelilingi benda yang lebih besar. “Ada dua jenis satelit yaitu satelit alami seperti bulan yang mengorbit Bumi dan satelit buatan seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional yang mengorbit Bumi”, jelasnya.
“Satelit jumlahnya banyak dan beragam jenisnya, contohnya satelit Astronomi digunakan untuk mengamati dan meneliti benda-benda dan fenomena angkasa. Satelit Komunikasi digunakan untuk telekomunikasi seperti telepon, internet, transmisi data, televisi, radio, dan lain-lain. Satelit Navigasi digunakan untuk menentukan posisi pesawat, kapal, kendaraan bermotor, dan manusia, satelit Cuaca digunakan untuk memantau dan meneliti cuaca suatu wilayah. Sedangkan satelit Penginderaan Jauh digunakan untuk memantau bumi, sumber daya alam, dan lingkungan”, terang Ibu Suraduita menjelaskan beragam fungsi dari satelit. (Yoga Swara/AS)